Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Desember 2012

Kajian interteks dan sastra bandingan nasional



Latar belakang
Sastra bandingan, dalam penelitian umum serta dalam kaitannya dengan  sejarah ataupun bidang ilmu lain, merupakan bagian dari sastra. Di dalamnya terdapat upaya bagaiman menghubungkan sastra yang satu dengn yang lain, bagaiman pengaruh antar keduanya, serta apa yang dapat diambil dan apa yang diberikannya. Atas dasar inilah penelitian dalam sastra bandingan bersifat berpindah dari satu sastra ke sastra yang lain, kemudian dicari benang merahnya. Terkadang perpindahan ini bias dari segi lafadz-lafadz bahasa, tema, serta gambaran yang di perlihatkan sastrawan dalam tema, ataupun hubungan dengan karya sastra lain.
Rumusan masalah
1.      Apakah landasan intertekstual?
2.      Apa pengertian hipogram?
3.      Bagaimana transformasi teks?
4.      Bagaimana cara membandingkan puisi lama (syair dan pantun)?
5.      Bagaimana cara membandingkan prosa lama (dongeng dan hikayat)?
6.      Bagaimana membandingkan sastra sejarah?
Tujuan
1.      Menjelaskan tentang landasan intekstual
2.      Menjelaskan pengertian hipogram
3.      Mengetahui secara terperinci tentang transformasi teks
4.      Menjelaskan perbandingan puisi lama
5.      Menjelaskan perbandingan prosa lama
6.      Menjelaskan perbandingan sastra sejarah


BAB II
PEMBAHASAN
1.      TEORI INTERTEKSTUAL
Nurgiyantoro (1992:50) mengatakan bahwa kajian intertekstual merupakan terhadap sejumlah teks sastra yang diduga mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu. Mengacu pendapat Nurgiyantoro tersebut, dapat dikatakan bahwa kajian intertekstual mencakup sastra bandingan, yaitu studi hubungan antara dua kesusastraan atau lebih (Wellek dan Warren, 1990 :49).
Secara luas interteks diartikan sebagai jaringan hubungan antara satu teks dengan teks yang lain. Penelitian dilakukan dengan cara melakukan hubungan-hubungan bermakna d antara dua teks atau lebih. Hubungan yang dimaksudkan tidak semata-mata sebagai persamaan, melainkan juga sebaliknya sebagai pertentangan, baik sebagai parodi maupun negasi.
Menurut Riffaterre (1978: 5)  pendekatan suatu karya sastra di satu pihak adalah dialektik antara teks dan pembaca, dan di pihak lain adalah dialektik antara tataran mimetik dan tataran semiotik. Lebih jauh Riffaterre menjelaskan bahwa pembaca sebagai pemberi makna harus mulai dengan menemukan arti (meaning) unsur-unsurnya, yaitu kata-kata  berdasar fungsi bahasa sebagai alat komunikasi yang mimetik (mimetic function), tetapi kemudian harus ditingkatkan ke tataran semiotik, yaitu kode karya sastra harus dibongkar secara struktural (decoding) atas dasar signifinance, yang hanya dapat dipahami   dengan kompetensi linguistik (linguistic competence), kompetensi kesastraan (literary competence), dan terutama dalam hubungannya dengan teks lain. Hal ini disebabkan oleh karena membaca karya sastra pada dasarnya adalah membina atau membangun acuan. Adapun acauan itu didapat dari pengalaman membaca  teks-teks lain dalam sistem konvensi kesastraan. Dengan demikian suatu sajak (baca: karya sastra) baru bermakna penuh dalam hubungannya atau pertentangannya dengan karya sastra lain. Karya sastra lain yang menunjukkan hubungan antar teks yang menjadi acuannya disebut hipogram (hypogram). Dalam hubungan antar teks tersebut terdapat dua hal yang dikemukakan oleh Riffaterre (1978: 5), yaitu:7 (1) ekspansi (expansion), dan (2) konversi (conversion). Ekspansi adalah perluasan atau pengembangan dari hipogram, sedangkan konversi adalah pemutar balikan hipogram atau matriksnya. Di samping itu, Partini Sardjono (l986: 63) menambah dua hal yang telah dikemukakan oleh Riffaterre tersebut, yaitu: (3) modifikasi (modification) atau pengubahan, dan (4) ekserp (exerpt). Lebih lanjut Partini Sardjono menjelaskan bahwa modifikasi biasanya merupakan manipulasi pada tataran linguistik, yaitu manipulasi kata atau urutan kata dalam kalimat; pada tataran kesastraan ialah manipulasi tokoh (protagonis) atau plot cerita. Ekserp artinya intisari suatu unsur atau episode dari hipogram.
Menurut teori interteks, pembacaan yang berhasil justru apabila didasarkan atas pemahaman terhadap karya-karya terdahulu. Oleh karena itulah, secara praktis aktivitas interteks terjadi melalui dua cara yaitu : (a) membaca dua teks atau lebih secara berdampingan pada saat yang sama, (b) hanya membaca sebuah teks tetapi dilatarbelakangi oleh teks-teks yang lain yang sudah pernah dibaca sebelumnya.

Hubungan Intertekstual
Dalam hal hubungan sejarah antarteks itu, perlu diperhatikan prinsip intertektualitas. Hal ini ditunjukkan oleh Rifaterre dalam bukunya Semiotics of Poetry (1978) bahwa sajak baru bermakna penuh dalam hubungannya dengan sajak lain. Hubungan ini dapat berupa persamaan atau pertentangan. Selanjutnya dkatakan Rifaterre (1978:11,23) bahwa sajak (teks sastra) yang menjadi latar karya sastra sesudahnya itu itu disebut hipogram (Pradopo 2005: 167).
Julia Kristeva (dalam Culler, 1977:139) menegaskan bahwa setiap teks itu merupakan penyerapan atau transformasi teks-teks lain. Sebuah sajak itu merupakan penyerapan dan tranformasi hipogramnya. Dengan ungkapan lain, bagi Kristeva, masuknya teks ke dalam teks lain adalah hal yang biasa terjadi dalam karya sastra, sebab pada hakikatnya suatu teks merupakan bentuk absorsi dan transformasi dari sejumlah teks lain, sehingga terlihat sebagai suatu mozaik (Ali Imron: 2005:80).
Dalam realitasnya, karya sastra yang muncul kemudian ada yang bersifat menentang gagasan atau ide sentral hipogramnya, ada yang justru menguatkan atau mendukung, namun ada juga yang memperbarui gagasan yang ada dalam hipogram
Prinsip intertekstual merupakan salah satu sarana pemberian makna terhadap sebuah teks sastra (sajak). Hal ini mengingat bahwa sastrawan itu selalu menanggapi teks-teks lain yang ditulis sebelumnya. Dalam meanggapiteks itu penyair mempunyai pikiran-pikiran, gagasan-gagasan, dan konsep estetik sendiri yang ditentukan oleh horizon harapannya, yaitu pemikiran-pemikiran, konsep estetik, dan pengetahuan tentang sastra yang dimilikinya. Semuanya itu ditentukan oleh pengetahuan yang didapat olehnya yang tak terlepas dari pandangan-pandangan dunia dan kondisi serta situasi zamannya.

Analisis Puisi "Penerimaan" Karya Chairil Anwar



Analisis Puisi Penerimaan Karya Chairil Anwar
Menggunakan Pendekatan Objektif
Oleh : Syifa Fauziyah 1111013000107
PBSi 3c
PENERIMAAN
Chairil Anwar
Kalau kau mau ku terima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau keterima kembali
Untukku sendiri lagi
Sedang dengan cermin aku enggan terbagi.
Maret 1943
  1. Unsur Fisik
a.       Rima
Bunyi  a-a terlihat dari bait 1
/ Kalau kau mau ku terima kau kembali/
/ Dengan sepenuh hati/
b.      Tipografi
Puisi penerimaan termasuk pada puisi modern karena tidak mengikuti peratura-peraturan lama, terdiri dari 6 bait. 2-1-2-1. Menggunakan tanda baca ditengah larik seperti pada bait 4 / Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani/
c.       Imaji
×          Imaji visual / Sedang dengan cermin aku enggan terbagi/
×          Imaji audio / Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani/
×          Imaji rasa / Dengan sepenuh hati/
d.      Diksi
×          Denotasi : 
/Kutahu kau bukan yang dulu lagi/
/Bak kembang sari sudah terbagi/

  1. Unsur Batin
a.       Tema
Lelaki yang mau menerima perempuannya kembali meski telah dihianati
b.      Perasaan
Penulis merasa kecewa pada kenyataan yang ada
c.       Nada
Nada yang ada pada puisi “Penerimaan” penulis penuh dengan kesedihan
d.      Amanat
Penulis memberikan amanat bahwa setiap manusia dapat memaafkan kesalahan orang lain

Kajian "Asmaradana" dalam Sastra Bandingan



Review Hasil Bacaan
Kajian “Asmaradana” Dalam Sastra Bandingan
Oleh : Syifa Fauziyah S 1111013000107
PBSI 3c
Asmaradana pertama berasalkan dari sastra Jawa klasik kemudian muncullah sastra yang berjudul sama yang dibuat oleh tiga sastrawan Indonesia modern yaitu, Danarto, Goenawan Mohamad, dan Subagio Sastrowardojo.
 Untuk mengetahui apakah Asmaradana sastra Jawa klasik merupakan Hipogram dari karya sastrawan Danarto, Goenawan Mohamad, dan Subagio Sastrowardojo, Hal pertama yang dilakukan oleh Santosa dalam menganalisis tiga karya tersebut yaitu, mengkaji isi teks dari masing-masing karya secara mendalam.
Asmaradana yang memiliki arti api percintaan atau api asmara, atau seseorang yang sangat mencintai lawan jenisnya.
  • Asmaradana dalam sastra Jawa klasik
Dalam bahasa Jawa:
Anjasmara ari mami
mas mirah kulaka warta
dasihmu lan wurung layon
aneng kutha Prabalingga
prang tandhing Wurungbhisma
karia mukti wong ayu
pun kakang pamit palastra.

            Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
            Anjasmara Andidaku
            permata hati carilah berita
            kekasihmu tak urung jadi mayat
            berada di kota Prabalingga
            bertempur melawan Wurubhisma
            tinggallah berbahagia wahai kekasihku
            Kakanda memohon diri untuk mati.

  • Asmaradana karya Danarto
Cerpen yang berjudul Asmaradana karya Danarto tidak dapat dikatakan sebagai transformasi teks dari Asmaradana sastra Jawa klasik karena Danarto membuat karya tersebut mengacu pada mitologi Yunani klasik yang terlihat pada nama-nama tokohnya seperti Salome, Herodes, Herodiah, dan lain-lain. Secara genre pun karya Danarto merupakan cerita pendek bukan puisi/sajak. Dan karya ini memiliki makna kerinduan atas Tuhan. Kesamaannya hanya pada judul karya sastranya saja.

  • Asmaradana karya Goenawan Mohamad
ASMARADANA
..............................
..............................
            Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok
pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara,
ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba,
karena ia tak berani lagi.
Anjasmara, adikku, tinggallah seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku.
Kulupakan wajahmu.
Asmaradana karya Goenawan Mohamad tidak hanya judul karyanya yang sama, kisah yang dimiliki karya ini pun sama dengan Asmaradana satra Jawa klasik yang mengisahkan Anjasmara dengan kekasihnya. Perubahan dalam karya ini yaitu bait dan liriknya, karya goenawan lebih bersifat naratif, memiliki dua sudut pandang antara (ia) orang ketiga dan (aku) orang pertama. Dapat dikatakan bahwa karya Goenawan Mohamad bukan hanya sekedar meniru tetapi ia turut memodifikasi membuat kreatifitas untuk membudayakan sastra Jawa klasik.
  • Asmaradana karya Subagio Sastrowardojo
ASMARADANA
..............................
.................................
            Dewa tak melindunginya dari neraka
            tapi Sita tak merasa berlaku dosa
            sekadar menurutkan naluri.
            Pada geliat sekarat terlompat doa
            jangan juga hangus dalam api
            sisa mimpi dari senggama.

            Asmaradana karya Subagio jelas berbeda dengan karya sastra Jawa klasik dan karya Goenawan Mohamad. Karya ini membolak-balikkan fakta dari tokoh Sita yang dalam mitos Jawa dikenal sebagai wanita yang setia, pasif dan baik sebagai anak dan istri terkesan menjadi wanita binal atau perempuan jalang yang terhanyut oleh cinta. Sudut pandang yang dipakai pun berbeda dengan karya Goenawan, sudut pandang yang dipakai adalah orang ketiga serba tahu. Jadi, karya Subagio tidak dapat dikatakan meniru meskipun memiliki judul yang sama.